Di antara anak-anak Sang Hyang Wenang dan Dewi Sahoti, tumbuh seorang putri bernama Dewi Suyati. Ia lahir di tengah keluarga para hyang, ketika kahyangan masih menjadi tempat bersemayamnya Sang Hyang Wenang dan keluarganya. Sejak kecil, Suyati berada di antara sosok-sosok yang memiliki kekuatan dan kedudukan besar. Ayahnya adalah penguasa kahyangan, sementara ibunya, Dewi Sahoti, adalah putri Prabu Hari dari Negeri Keling. Dari kedua orang tuanya mengalir warisan yang menghubungkan dunia kerajaan dan alam para hyang.
Suyati tumbuh bersama saudara-saudaranya: Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Nioya, Sang Hyang Herumaya, dan Sang Hyang Senggana. Di antara mereka, Tunggal kelak menjadi penerus Sang Hyang Wenang, sementara saudara-saudaranya menempuh jalan masing-masing. Suyati sendiri tumbuh sebagai seorang putri yang kelak akan membawa garis keturunan keluarganya ke tempat yang jauh lebih dalam daripada yang pernah dibayangkannya.
Jalan yang Membawanya ke Saptapratala
Ketika Sang Hyang Wenang telah menyerahkan takhtanya kepada Sang Hyang Tunggal, kehidupan keluarga para hyang mulai memasuki babak baru. Kekuasaan telah berpindah, tetapi hubungan antara anak-anak Wenang dan dunia para hyang terus berkembang. Pada masa itulah jalan hidup Dewi Suyati membawanya menuju Saptapratala, kerajaan yang berada jauh di bawah bumi.
Di sana bersemayam Sang Hyang Anantaswara, sosok yang memiliki wujud naga dan berkuasa di alam Saptapratala. Pertemuan keduanya akhirnya membawa Suyati menjadi pendamping Anantaswara. Ia meninggalkan kehidupan di kahyangan dan memasuki dunia yang berbeda, dunia bawah bumi yang penuh dengan makhluk gaib dan kekuatan yang tidak dikenal manusia.
Bagi Suyati, perjalanan itu bukan sekadar meninggalkan rumah. Ia membawa nama dan darah Sang Hyang Wenang ke sebuah kerajaan yang tersembunyi di kedalaman bumi. Di tempat itulah kehidupan baru menantinya.
Lahirnya Sang Hyang Anantanaga
Dari perkawinan Dewi Suyati dan Sang Hyang Anantaswara kemudian lahirlah seorang putra bernama Sang Hyang Anantanaga. Anak itu mewarisi darah dua dunia: darah para hyang dari ibunya dan darah naga dari ayahnya. Sejak kelahirannya, garis keturunan Dewi Suyati mulai bergerak semakin jauh ke dalam dunia para makhluk gaib.
Anantanaga kemudian tumbuh dan melanjutkan perjalanan hidupnya sendiri. Ia kelak menikah dengan Dewi Wasu, putri Sang Hyang Nioya, yang masih memiliki hubungan darah dengan keluarga Dewi Suyati. Dari perkawinan mereka lahirlah Sang Hyang Antaboga, tokoh yang kemudian dikenal sebagai penguasa para naga.
Dengan demikian, darah Dewi Suyati terus mengalir melalui generasi berikutnya. Apa yang dimulai dari seorang putri Sang Hyang Wenang di kahyangan akhirnya berkembang menjadi salah satu garis keturunan penting di dunia bawah bumi.
Jejak yang Mengalir ke Dunia Naga
Sang Hyang Antaboga kelak menjadi sosok penting di antara para naga. Ia bersemayam di Saptapratala dan memiliki kedudukan besar di alam tersebut. Dalam perjalanan kisah para dewa, keturunannya kemudian bersinggungan kembali dengan dunia kahyangan.
Suatu ketika, hubungan darah yang selama ini tersembunyi kembali menemukan jalannya. Para dewa yang datang ke Saptapratala tidak menyadari bahwa makhluk-makhluk naga yang mereka hadapi masih memiliki hubungan dengan garis keturunan mereka sendiri. Namun setelah asal-usul mereka diketahui, permusuhan berubah menjadi pengakuan terhadap ikatan keluarga yang telah terbentuk sejak generasi Dewi Suyati.
Dari tempat yang jauh di bawah bumi itu, jejak Suyati ternyata belum pernah benar-benar hilang. Darahnya telah menjadi bagian dari keluarga naga, sementara keturunannya berdiri sebagai penghubung antara alam kahyangan dan Saptapratala.
Putri yang Menjadi Awal Sebuah Garis Keturunan
Dewi Suyati tidak dikenal melalui perebutan takhta atau peperangan besar. Kisahnya bergerak melalui jalan yang lebih sunyi. Ia adalah putri Sang Hyang Wenang yang meninggalkan kahyangan untuk mengikuti jalan hidupnya bersama Sang Hyang Anantaswara. Dari perkawinan itu lahir Anantanaga, lalu dari Anantanaga lahir garis keturunan yang membawa nama mereka semakin jauh ke dunia para naga.
Di dalam garis keturunan itu, nama Dewi Suyati menjadi sebuah awal. Ia berdiri sebagai mata rantai antara keluarga Sang Hyang Wenang dan bangsa naga yang bersemayam di kedalaman bumi. Melalui dirinya, hubungan antara kahyangan dan Saptapratala menjadi semakin erat.
Dan ketika kelak nama Sang Hyang Antaboga disebut dalam kisah para dewa, jejak Dewi Suyati sebenarnya masih berada di sana. Jauh sebelum Antaboga menjadi penguasa para naga, jauh sebelum keturunannya bersentuhan kembali dengan para dewa, semuanya bermula dari seorang putri Sang Hyang Wenang yang meninggalkan kahyangan dan membawa takdirnya menuju dunia di bawah bumi.
Dewi Suyati pun menjadi bagian dari perjalanan panjang para hyang—seorang putri yang tidak memilih singgasana ayahnya, tetapi meninggalkan warisan melalui keturunan yang kelak menghubungkan dua alam yang berbeda.
