Di antara anak-anak Sang Hyang Wenang dan Dewi Sahoti, terdapat seorang putra yang jalannya berbeda dari Sang Hyang Tunggal. Namanya Sang Hyang Nioya. Ia tumbuh di tengah keluarga para hyang, bersama Dewi Suyati, Sang Hyang Herumaya, dan Sang Hyang Senggana, sementara Sang Hyang Tunggal sebagai putra sulung kelak menerima warisan takhta dari ayah mereka. Sejak awal, Nioya tidak diarahkan menuju singgasana. Jalannya membawa dirinya kepada tugas yang lain: menjaga kasih sayang, kesuburan, dan kemuliaan yang membuat kehidupan terus tumbuh.
Ketika Sang Hyang Wenang akhirnya menyerahkan kekuasaan kepada Sang Hyang Tunggal, anak-anaknya mulai menemukan jalan masing-masing. Nioya kemudian bersemayam di Kahyangan Argamaya, tempat yang menjadi kediamannya bersama Sang Hyang Triyarta. Dari sana, ia menjalankan kedudukannya sebagai dewa yang berkaitan dengan kasih sayang dan kesuburan. Kekuatannya bukanlah kekuatan yang digunakan untuk merebut takhta, melainkan kekuatan yang membuat kehidupan dapat berkembang dan hubungan antarmakhluk tetap terjalin.
Pertemuan dengan Dewi Darmastuti
Di Kahyangan Argamaya, perjalanan Sang Hyang Nioya kemudian bertemu dengan seorang perempuan dari garis keturunannya sendiri, Dewi Darmastuti, putri Sang Hyang Tunggal dan Dewi Darmani. Pertemuan mereka membawa sebuah ikatan yang kelak mengubah banyak hal di antara para dewa. Dewi Darmastuti menjadi pendamping Nioya, dan dari perkawinan mereka lahirlah keturunan yang jumlahnya begitu banyak hingga memenuhi kisah-kisah para dewa.
Anak-anak mereka seluruhnya perempuan. Jumlahnya mencapai empat puluh orang, dan mereka tumbuh sebagai para bidadari serta hapsari. Kelahiran mereka membuat Kahyangan Argamaya semakin dipenuhi kehidupan. Para putri itu kelak tidak hanya menjadi bagian dari keluarga Nioya, tetapi juga memainkan peranan penting dalam hubungan antarketurunan para hyang. Mereka akan menjadi pasangan bagi para dewa keturunan Sang Hyang Tunggal, termasuk keturunan Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Manikmaya.
Empat Puluh Putri dari Argamaya
Hari-hari berlalu di Argamaya, dan keempat puluh putri Sang Hyang Nioya tumbuh menjadi para bidadari yang memiliki kecantikan serta kedudukan masing-masing. Di antara mereka terdapat nama-nama yang kemudian terkenal dalam kisah para dewa. Dewi Wiyati menjadi pendamping Sang Hyang Indra. Dewi Saci dan beberapa saudarinya menjadi bagian dari keluarga para dewa lainnya. Ada pula Dewi Wasu, yang kelak memasuki garis keturunan naga melalui perkawinannya dengan Sang Hyang Anantanaga.
Melalui putri-putrinya, pengaruh Sang Hyang Nioya menyebar jauh melampaui Kahyangan Argamaya. Hubungan keluarga yang terbentuk dari perkawinan mereka menyatukan berbagai garis keturunan para hyang. Apa yang bermula dari sebuah kahyangan yang tenang perlahan menjadi jaringan keluarga yang menghubungkan banyak tokoh dalam dunia para dewa.
Salah satu hubungan yang paling penting membawa jejak Nioya menuju dunia bawah bumi. Putrinya, Dewi Wasu, kelak menikah dengan Sang Hyang Anantanaga. Dari perkawinan mereka lahirlah Sang Hyang Antaboga, tokoh besar di antara bangsa naga. Dengan demikian, garis keturunan Nioya tidak hanya mengalir di antara para dewa, tetapi juga masuk ke dunia Saptapratala.
Jejak yang Menyatukan Banyak Dunia
Sang Hyang Nioya tidak meninggalkan kisah melalui peperangan besar ataupun perebutan kekuasaan. Jejaknya tumbuh dengan cara yang lebih tenang. Dari Kahyangan Argamaya, ia membangun keluarga yang kemudian menjadi penghubung bagi banyak garis keturunan. Anak-anaknya menyebar ke berbagai tempat, menjadi pasangan para dewa, dan membawa keturunannya semakin jauh.
Dewi Wasu menjadi salah satu mata rantai terpenting. Ketika ia menikah dengan Sang Hyang Anantanaga, hubungan antara garis keturunan para hyang dan bangsa naga semakin erat. Dari mereka lahirlah Sang Hyang Antaboga, yang kelak menjadi penguasa para naga. Jauh sebelum nama Antaboga dikenal dalam kisah-kisah besar, darah Sang Hyang Nioya telah lebih dahulu mengalir menuju dunia tersebut.
Karena itu, kisah Sang Hyang Nioya bukan hanya tentang seorang putra Sang Hyang Wenang yang bersemayam di Argamaya. Kisahnya adalah tentang kehidupan yang berkembang melalui kasih sayang, keluarga, dan keturunan. Ia tidak membutuhkan takhta untuk meninggalkan pengaruh. Anak-anaknya telah menjadi jalan yang membawa namanya ke berbagai penjuru alam para dewa.
Sang Hyang Nioya di Kahyangan Argamaya
Di Kahyangan Argamaya, Sang Hyang Nioya tetap menjalankan kedudukannya sebagai dewa kasih sayang, kesuburan, dan kemuliaan. Di tempat itu, kisah keluarganya terus hidup. Empat puluh putrinya telah membuka jalan menuju berbagai keluarga para dewa, sementara salah satu dari mereka telah membawa garis keturunannya sampai kepada bangsa naga.
Dari Sang Hyang Wenang, Nioya menerima darah para hyang. Dari Dewi Sahoti, ia menjadi bagian dari keluarga yang menghubungkan keturunan Sang Hyang Wenang dengan dunia yang lebih luas. Dan melalui putri-putrinya, warisan itu terus bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pada akhirnya, kekuatan Sang Hyang Nioya bukanlah kekuatan yang tampak dalam gemuruh peperangan. Ia hadir dalam sesuatu yang jauh lebih mendasar: kehidupan yang terus tumbuh, kasih sayang yang menyatukan, dan keturunan yang membuat sebuah warisan tidak pernah benar-benar berakhir.
Di balik banyak nama para dewa dan bidadari yang muncul dalam kisah-kisah berikutnya, terdapat sebuah garis yang kembali menuju Kahyangan Argamaya.
Dan di sanalah Sang Hyang Nioya bersemayam—putra Sang Hyang Wenang yang memilih jalan kehidupan, lalu meninggalkan jejaknya melalui keluarga yang terus berkembang melampaui zamannya.
