Jauh dari kahyangan tempat Sang Hyang Wenang bersemayam, berdirilah Negeri Keling di bawah kekuasaan Prabu Hari. Di kerajaan itulah Dewi Sahoti tumbuh sebagai putri sang raja. Tidak pernah terbayang olehnya bahwa suatu hari perjalanan hidupnya akan membawanya meninggalkan istana dan memasuki dunia para hyang. Namun takdir mempertemukannya dengan Sang Hyang Wenang melalui sebuah peristiwa yang bermula dari pertempuran.
Prabu Hari datang ke Kahyangan Pulau Dewa untuk menguji kesaktian Sang Hyang Wenang. Pertarungan pun terjadi. Kesaktian keduanya berhadapan hingga akhirnya Prabu Hari mengakui keunggulan Wenang. Pertempuran yang semula membawa permusuhan justru membuka jalan bagi hubungan baru. Sang Hyang Nurrasa kemudian mengubah permusuhan itu menjadi ikatan keluarga. Prabu Hari menerima rencana tersebut, dan Dewi Sahoti dipersunting oleh Sang Hyang Wenang.
Sejak hari itu, Dewi Sahoti meninggalkan Negeri Keling dan menjadi permaisuri Sang Hyang Wenang. Ia memasuki kehidupan di kahyangan, berdiri di sisi seorang penguasa yang memiliki kekuasaan besar sekaligus menjalani laku batin yang panjang. Dunia yang kini menjadi rumahnya berbeda dari istana tempat ia dibesarkan. Namun di sanalah perjalanan hidupnya yang paling penting justru dimulai.
Putra Pertama yang Diselimuti Cahaya
Tidak lama setelah menjadi istri Sang Hyang Wenang, Dewi Sahoti mengandung. Ketika waktunya tiba, lahirlah seorang anak dengan wujud yang tidak seperti bayi manusia. Tubuhnya berupa akyan dan diselimuti empat cahaya: merah, kuning, hitam, dan putih. Keempat cahaya itu memancar dari tubuh sang bayi, membuat kelahirannya menjadi peristiwa yang luar biasa di kahyangan.
Sang Hyang Wenang kemudian memandikan anak itu dengan Tirtamarta Kamandalu. Perlahan, keempat cahaya yang menyelimuti tubuhnya menyatu. Wujud sang bayi berubah hingga menjadi sosok dewasa yang memancarkan cahaya. Sang Hyang Wenang kemudian memberinya nama Sang Hyang Tunggal, mengambil nama tersebut dari Kahyangan Gunung Tunggal yang menjadi salah satu tempat kediamannya.
Dewi Sahoti menyaksikan putra pertamanya tumbuh dengan cepat di hadapan matanya. Anak yang baru saja lahir itu kini telah menjadi seorang pemuda dewasa. Tidak ada yang mengetahui sejauh mana perjalanan sang anak kelak akan membawa garis keturunan mereka. Namun satu hal telah berubah sejak kelahirannya: Dewi Sahoti kini bukan hanya pendamping Sang Hyang Wenang, melainkan ibu dari seorang putra yang akan memegang peranan besar dalam masa depan para hyang.
Anak-Anak Sang Hyang Wenang
Kehidupan di kahyangan terus berjalan. Setelah Sang Hyang Tunggal, Dewi Sahoti kembali mengalami masa kehamilan. Ketika waktunya tiba, lahirlah sepasang anak kembar, laki-laki dan perempuan. Keduanya hadir dalam wujud akyan dan sama-sama diselimuti cahaya. Sang Hyang Wenang kembali memandikan mereka dengan Tirtamarta Kamandalu hingga wujud mereka berubah menjadi dewasa. Anak laki-laki itu diberi nama Sang Hyang Hening, sedangkan anak perempuan diberi nama Dewi Suyati.
Kehidupan keluarga itu kemudian semakin lengkap dengan hadirnya anak-anak berikutnya. Dalam garis keturunan yang digunakan dalam kisah ini, Dewi Sahoti menjadi ibu dari lima anak bersama Sang Hyang Wenang: Sang Hyang Tunggal, Dewi Suyati, Sang Hyang Nioya, Sang Hyang Herumaya, dan Sang Hyang Senggana. Nama-nama mereka kelak menjadi bagian dari rangkaian panjang silsilah para dewa.
Di tengah semua itu, Dewi Sahoti tetap berada di sisi Sang Hyang Wenang. Ia menyaksikan putra-putrinya tumbuh dan melihat bagaimana kehidupan keluarganya perlahan terhubung dengan masa depan kahyangan. Sang Hyang Tunggal pun mulai menjalani kehidupannya sendiri. Ia mewarisi sifat para leluhurnya yang gemar mengembara dan melakukan tapa. Suatu hari, ketika Prabu Hari datang ke kahyangan, Sang Hyang Wenang memberitahukan bahwa putra sulung mereka sedang pergi berkelana. Pada saat yang sama, Dewi Sahoti sedang mengandung anak berikutnya.
Ibu dari Penerus Takhta
Waktu terus bergerak, dan Sang Hyang Tunggal semakin dewasa. Putra sulung Dewi Sahoti itu akhirnya menjadi bagian penting dari rencana masa depan Sang Hyang Wenang. Dahulu Prabu Hari menyerahkan Kerajaan Keling kepada Sang Hyang Wenang, tetapi Wenang memiliki kehendak lain. Kerajaan itu kelak akan diteruskan kepada putranya yang lahir dari Dewi Sahoti.
Hari demi hari, Dewi Sahoti menyaksikan perjalanan anaknya menuju kedudukan yang semakin besar. Sang Hyang Tunggal bukan lagi anak yang dahulu lahir dalam cahaya empat warna. Ia telah tumbuh menjadi sosok yang membawa warisan ayah dan ibunya. Kelak ia akan menerima takhta dari Sang Hyang Wenang, meneruskan kerajaan dan garis keturunan yang telah dibangun sebelumnya.
Dewi Sahoti pun menjadi penghubung antara dua dunia. Dari Prabu Hari ia mewarisi darah kerajaan Keling. Dari Sang Hyang Wenang ia memasuki garis keturunan para hyang. Dan dari anak-anaknya, terutama Sang Hyang Tunggal, hubungan antara dunia manusia, kerajaan, dan kahyangan akan terus berkembang.
Jejak Dewi Sahoti
Tidak semua tokoh meninggalkan jejak melalui peperangan atau perebutan kekuasaan. Ada pula tokoh yang jejaknya tumbuh melalui keluarga dan keturunan. Dewi Sahoti adalah salah satunya. Ia datang sebagai putri Prabu Hari, meninggalkan Negeri Keling, kemudian berdiri di sisi Sang Hyang Wenang sebagai permaisuri dan ibu.
Dari dirinya lahir Sang Hyang Tunggal dan anak-anak lainnya. Dari Sang Hyang Tunggal, garis keturunan itu bergerak semakin jauh. Kelak Sang Hyang Tunggal akan menjadi ayah bagi generasi yang menghadirkan tokoh-tokoh besar dalam dunia para dewa dan pewayangan.
Karena itu, ketika nama Dewi Sahoti disebut, yang terbayang bukan hanya seorang putri dari Negeri Keling. Di balik namanya terdapat sebuah keluarga yang menjadi salah satu mata rantai penting dalam perjalanan para hyang. Ia memasuki kahyangan sebagai seorang putri raja, menjadi pendamping Sang Hyang Wenang, lalu menyaksikan anak-anaknya tumbuh menuju takdir masing-masing.
Dan ketika Sang Hyang Wenang akhirnya menyerahkan takhta kepada Sang Hyang Tunggal, warisan itu tidak hanya berpindah dari seorang ayah kepada putranya. Di dalam diri Sang Hyang Tunggal ikut mengalir darah dan warisan Dewi Sahoti, perempuan dari Negeri Keling yang telah menjadi bagian dari awal perjalanan panjang para dewa.
