Sang Hyang Triyarta: Penguasa Kesuburan di Kahyangan Argamaya

  •  
Sang Hyang Triyarta: Penguasa Kesuburan di Kahyangan Argamaya

Sang Hyang Triyarta: Penguasa Kesuburan di Kahyangan Argamaya

Jauh di antara kahyangan yang menjadi tempat bersemayamnya para dewa, lahirlah seorang putra bernama Sang Hyang Triyarta. Ia berasal dari garis keturunan para hyang dan tumbuh bersama saudara-saudaranya: Sang Hyang Pancaresi, Sang Hyang Narada, Sang Hyang Caturkanaka, Sang Hyang Dermaya, dan Dewi Dremani.

Sejak dewasa, Triyarta tidak memilih jalan menuju takhta. Ia justru mengambil kedudukan yang berkaitan dengan kehidupan dan keseimbangan alam. Ia dikenal sebagai dewa kesuburan, keluhuran, dan kemuliaan. Tempatnya bersemayam kemudian berada di Kahyangan Argamaya, sebuah tempat yang juga menjadi kediaman Sang Hyang Nioya.

Di Argamaya, Triyarta menjalankan tugasnya dengan tenang. Ia tidak dikenal karena peperangan atau perebutan kekuasaan. Kekuasaannya hadir dalam sesuatu yang jauh lebih mendasar: kehidupan yang tumbuh, kesuburan yang memberi kehidupan, serta keluhuran yang menjaga keseimbangan.

Pertemuan dengan Dewi Suyati

Jalan hidup Triyarta kemudian mempertemukannya dengan Dewi Suyati, putri Sang Hyang Wenang dan Dewi Sahoti. Pertemuan keduanya mempertemukan dua cabang besar keluarga para hyang.

Sang Hyang Triyarta adalah keturunan dari keluarga Sang Hyang Wening, sementara Dewi Suyati merupakan keturunan Sang Hyang Wenang. Kedua keluarga itu memiliki hubungan darah yang sangat dekat, sehingga pernikahan mereka semakin mempererat hubungan antara dua garis keturunan tersebut.

Dewi Suyati kemudian menjadi pendamping Triyarta dan tinggal bersamanya di Kahyangan Argamaya.

Hari-hari mereka berlangsung dalam ketenteraman. Tidak ada perebutan takhta yang mengganggu kehidupan mereka. Tidak ada peperangan yang harus mereka hadapi. Namun dari ketenangan itulah akan lahir sebuah generasi yang jumlahnya jauh lebih besar daripada yang pernah dibayangkan.

Tujuh Puluh Tujuh Putri

Ketika Dewi Suyati melahirkan, tidak lahir seorang putra yang kelak akan menjadi raja.

Anak-anak yang hadir semuanya perempuan.

Satu demi satu putri lahir dari pasangan Sang Hyang Triyarta dan Dewi Suyati hingga jumlahnya mencapai tujuh puluh tujuh orang. Mereka kemudian tumbuh sebagai para bidadari dan hapsari yang memiliki kecantikan serta kedudukan masing-masing di alam para dewa.

Kahyangan Argamaya pun berubah. Tempat yang dahulu tenang kini dipenuhi kehidupan. Tujuh puluh tujuh putri tumbuh menjadi generasi baru yang kelak akan membawa nama Triyarta dan Suyati jauh melampaui tempat kelahiran mereka.

Namun mereka bukan sekadar anak-anak seorang dewa.

Kelak, para putri itu akan menjadi pasangan bagi keturunan Sang Hyang Tunggal, baik dari garis Sang Hyang Ismaya maupun Sang Hyang Manikmaya. Melalui perkawinan mereka, hubungan antara berbagai keluarga para hyang menjadi semakin luas.

Dengan demikian, rumah Triyarta di Argamaya menjadi salah satu tempat penting bagi tumbuhnya generasi para bidadari.

Dewi Tunjungbiru

Di antara tujuh puluh tujuh putri tersebut, terdapat seorang bidadari yang kelak memiliki perjalanan berbeda.

Namanya Dewi Tunjungbiru.

Berbeda dari saudari-saudarinya yang tetap berada di alam para dewa, Tunjungbiru suatu ketika turun ke Arcapada dan menjalani kehidupan di dunia manusia. Ia menjelma sebagai putri Bathara Kandikota dan kemudian menjadi istri Prabu Arya, raja Duryapura.

Dari perkawinan mereka lahirlah seorang putra bernama Dasarata, yang kelak menjadi raja Ayodya. Dengan demikian, perjalanan satu orang putri dari Argamaya membawa garis keturunan Triyarta dan Suyati semakin jauh ke dunia manusia.

Jauh sebelum nama Dasarata dikenal di Ayodya, semuanya bermula dari sebuah kahyangan yang dihuni Sang Hyang Triyarta dan Dewi Suyati.

Kahyangan yang Menjadi Awal Banyak Keturunan

Tujuh puluh tujuh putri Triyarta dan Suyati akhirnya menyebar melalui berbagai perkawinan. Sebagian tetap menjadi bidadari di kahyangan, sementara sebagian lainnya turun ke Arcapada dan menjadi pendamping para raja, kesatria, maupun resi.

Mereka membawa kecantikan dan kemuliaan yang diwariskan dari kedua orang tuanya. Setiap perkawinan membuka jalan baru bagi garis keturunan para hyang untuk memasuki dunia yang lebih luas.

Triyarta menyaksikan semua itu dari Argamaya.

Anak-anak yang dahulu memenuhi kahyangan perlahan menempuh jalan masing-masing. Ada yang tetap berada di antara para dewa. Ada yang turun ke bumi. Ada yang menjadi bagian dari keluarga kerajaan.

Namun ke mana pun mereka pergi, satu hal tetap sama: mereka membawa darah Sang Hyang Triyarta dan Dewi Suyati.

Warisan Sang Hyang Triyarta

Sang Hyang Triyarta tidak meninggalkan warisan berupa takhta besar atau pusaka yang menjadi rebutan para dewa. Warisannya jauh lebih hidup.

Ia meninggalkan tujuh puluh tujuh putri yang kemudian menjadi bidadari dan hapsari, menghubungkan berbagai keluarga para hyang melalui perkawinan mereka. Salah satunya, Dewi Tunjungbiru, bahkan membawa garis tersebut hingga ke kerajaan Ayodya di dunia manusia.

Karena itu, ketika melihat kembali perjalanan keluarga para hyang, nama Triyarta muncul sebagai salah satu mata rantai penting. Dari dirinya dan Dewi Suyati lahir generasi perempuan yang menyebar ke berbagai penjuru alam.

Di Kahyangan Argamaya, Sang Hyang Triyarta tetap menjalankan kedudukannya sebagai dewa kesuburan, keluhuran, dan kemuliaan.

Ia tidak membutuhkan pasukan untuk meninggalkan jejak.

Tidak membutuhkan singgasana untuk dikenang.

Cukup dengan kehidupan yang tumbuh dari dirinya.

Tujuh puluh tujuh putri telah membawa nama Triyarta keluar dari Argamaya. Sebagian tetap menjadi bidadari, sebagian turun ke dunia manusia, dan masing-masing membuka jalan bagi kisah-kisah baru.

Dan dari antara mereka, Dewi Tunjungbiru menjadi salah satu nama yang kelak membawa warisan Sang Hyang Triyarta semakin jauh—hingga dunia manusia mengenal keturunan yang berasal dari sebuah kahyangan jauh di atas sana.

Last update
Add Comment

⚡ Trending!