Ketika Dewi Uma melahirkan putra pertamanya di Suralaya, suasana kahyangan berubah menjadi riuh. Para dewa datang menyaksikan kelahiran anak yang kelak akan menjadi salah satu tokoh penting dalam keluarga penguasa Tribuana.
Sang Hyang Manikmaya memandang bayi itu dengan penuh kebanggaan. Dewi Uma menggendongnya dengan lembut. Anak itu diberi nama Sang Hyang Sambo.
Sebagai putra sulung Manikmaya dan Dewi Uma, Sambo tumbuh di tengah kehidupan para dewa. Di belakangnya kemudian lahir adik-adiknya: Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Indra, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Wisnu, dan Batara Kala. Ia juga memiliki tiga saudara seayah dari Dewi Umaranti, yaitu Sang Hyang Cakra, Sang Hyang Mahadewa, dan Sang Hyang Asmara.
Namun Sambo tidak tumbuh sebagai anak yang hanya mengandalkan kedudukannya sebagai putra sulung.
Sejak muda, ia dikenal memiliki sifat tenang, jujur, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya. Ketika muncul persoalan yang membutuhkan seseorang untuk mengambil keputusan dengan kepala dingin, para dewa sering mempercayakan urusan itu kepadanya.
Penjaga Swelagringging
Setelah dewasa, Sambo bersemayam di Kahyangan Swelagringging. Di tempat itulah ia menjalankan kehidupannya sebagai salah seorang dewa utama.
Tidak seperti Manikmaya yang duduk di pusat kekuasaan Suralaya, Sambo memiliki wilayah dan tanggung jawabnya sendiri. Ia menjadi sosok yang dapat diandalkan ketika para dewa menghadapi persoalan yang membutuhkan keberanian sekaligus kebijaksanaan.
Kesaktiannya pun bukan sesuatu yang dapat diremehkan.
Ketika Sambo bertiwikrama, kekuatan dari dalam dirinya memancar begitu besar hingga mampu menundukkan lawan. Tetapi ia tidak menggunakan kekuatan itu untuk menunjukkan kehebatan semata. Wataknya yang bertanggung jawab membuatnya lebih sering menjadi penengah daripada pencari pertikaian.
Kedudukan itu semakin menguat ketika ia membangun keluarganya sendiri.
Pertemuan dengan Dewi Hastuti
Di antara keluarga besar para hyang, Sambo kemudian bertemu dengan Dewi Hastuti, putri Sang Hyang Darmastuti. Pertemuan keduanya membawa mereka menjadi pasangan.
Dewi Hastuti bukan perempuan dari keluarga asing. Ia masih memiliki hubungan darah dengan Sambo melalui garis besar keluarga Sang Hyang Tunggal. Namun di tengah kehidupan para dewa, keduanya akhirnya membangun rumah tangga mereka sendiri di Swelagringging.
Dari perkawinan itu lahirlah empat putra: Batara Sambosa, Batara Sambawa, Batara Sambujana, dan Batara Sambodana.
Sambo kemudian menyaksikan anak-anaknya tumbuh.
Di antara mereka, Sambodana kelak membawa garis keturunannya menuju dunia manusia. Dari garis itu kemudian lahir para penguasa Lokapala.
Apa yang dimulai sebagai sebuah keluarga di kahyangan akhirnya akan menjangkau kerajaan-kerajaan di Arcapada.
Turun ke Dunia Manusia
Suatu ketika, jalan hidup Sambo membawanya turun dari kahyangan.
Ia datang ke Arcapada dan mengambil kedudukan sebagai seorang raja di Medangprawa. Di sana ia memakai gelar Sri Maharaja Maldewa. Untuk sementara waktu, putra penguasa Suralaya itu meninggalkan kehidupan kahyangan dan menjalani kehidupan sebagai seorang raja di dunia manusia.
Di atas takhta, sifat yang selama ini melekat pada dirinya tidak berubah.
Ia tetap mengutamakan tanggung jawab.
Ia tetap berusaha berlaku adil.
Dan ia tetap menggunakan kekuatannya untuk menjaga ketenteraman negeri yang berada di bawah kekuasaannya.
Namun kehidupan seorang raja manusia tidak pernah sederhana. Setiap keputusan membawa akibat, dan setiap persoalan kerajaan menuntut keberanian untuk menyelesaikannya.
Sambo menjalaninya sebagaimana ia menjalankan tugasnya di kahyangan.
Dengan keteguhan.
Ketika Samudra Susu Harus Dikocok
Ada satu tugas lain yang membawa Sambo kembali ke antara para dewa.
Ketika para dewa dan raksasa hendak mengaduk Samudra Susu untuk memperoleh tirta kehidupan, Sang Hyang Manikmaya memberikan tugas penting kepada Sambo. Ia harus memimpin pelaksanaan pekerjaan besar tersebut.
Gunung Mandara digunakan sebagai pengaduk.
Sang Hyang Wisnu mengambil wujud kura-kura bernama Akupa untuk menjadi landasan gunung. Sang Hyang Basuki menjadi tali yang dililitkan pada gunung, sementara para dewa dan raksasa menariknya dari dua sisi.
Sambo berada di tengah kekacauan itu, mengatur agar pekerjaan besar tersebut dapat berlangsung.
Gunung bergerak.
Samudra bergolak.
Air berputar semakin keras.
Para dewa dan raksasa terus menarik tali tanpa mengenal lelah.
Sambo tidak meninggalkan tugasnya.
Ia tetap memimpin hingga pengadukan samudra selesai dan rahasia yang tersembunyi di dalamnya mulai muncul ke permukaan.
Peristiwa itu menjadi salah satu tugas besar yang pernah dipercayakan kepada putra sulung Manikmaya.
Warisan Sang Hyang Sambo
Pada akhirnya, perjalanan Sambo tidak hanya meninggalkan nama di kahyangan. Ia meninggalkan keluarga yang kelak membawa garis keturunannya semakin jauh.
Empat putranya tumbuh dan menempuh jalan masing-masing. Salah seorang di antaranya, Sambujana, menjadi leluhur yang garis keturunannya kemudian berhubungan dengan keluarga Lokapala. Dari keturunannya pula lahir Dewi Darini, yang kelak menjadi ibu Sumantri dan Sukasrana.
Dengan demikian, perjalanan Sambo tidak berhenti ketika ia kembali ke Swelagringging.
Darahnya terus bergerak.
Dari kahyangan menuju dunia manusia.
Dari satu generasi menuju generasi berikutnya.
Sambo sendiri tetap menjadi salah satu putra utama Sang Hyang Manikmaya. Ia tidak mewarisi takhta Suralaya seperti ayahnya, tetapi memiliki kedudukan yang membuat para dewa mempercayainya ketika sebuah persoalan harus diselesaikan.
Ia adalah putra sulung yang tidak mencari kemuliaan melalui kesombongan.
Ia memperoleh kepercayaan melalui tanggung jawab.
Dan ketika namanya kembali disebut di antara para dewa, yang teringat bukan hanya kesaktiannya, melainkan sosok yang berdiri tenang ketika yang lain mulai kehilangan arah.
**Sang Hyang Sambo—putra sulung Manikmaya, penguasa Swelagringging, dan salah satu dewa yang dipercaya menjaga keseimbangan dunia para hyang.**
