Di Kahyangan Argamaya, para bidadari tumbuh dalam cahaya yang tidak pernah padam. Di antara puluhan putri Sang Hyang Nioya dan Dewi Darmastuti, ada seorang bidadari yang namanya sering disebut di antara para penghuni kahyangan.
Namanya Dewi Urwaci.
Ia tumbuh bersama saudari-saudarinya, termasuk Dewi Warsiki, yang kelak menjadi salah satu bidadari utama dalam upacara-upacara Suralaya. Urwaci sendiri memiliki kecantikan yang membuat keberadaannya mudah diperhatikan oleh para dewa. Bahkan Sang Hyang Manikmaya menaruh perhatian khusus kepadanya.
Namun kehidupan Urwaci berubah ketika seorang kesatria dari dunia manusia datang ke hadapan para dewa.
Kesatria itu bernama Arjuna.
Pertemuan dengan Arjuna
Arjuna datang ke alam para dewa setelah melewati berbagai perjalanan dan tapa. Ketika berada di kahyangan, ia berhadapan dengan kehidupan yang sangat berbeda dari dunia manusia. Para dewa, gandarwa, dan bidadari memenuhi tempat itu dengan kemegahan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Di antara mereka, perhatian Urwaci tertuju kepada Arjuna.
Ada sesuatu pada diri kesatria itu yang berbeda. Ia bukan sekadar manusia yang kebetulan mendapatkan tempat di kahyangan. Keteguhan, ketenangan, dan kewibawaannya membuat Urwaci semakin ingin mendekatinya.
Perasaan itu akhirnya tidak lagi dapat disembunyikan.
Urwaci menyampaikan keinginannya kepada Arjuna.
Namun jawaban Arjuna bukanlah seperti yang diharapkannya.
Arjuna menolak.
Ia tidak melihat Urwaci sebagai perempuan yang dapat dijadikannya pasangan. Dalam hubungan mereka terdapat ikatan keluarga menurut garis keturunan para dewa, sehingga Arjuna memilih menjaga kehormatan dan batas yang diyakininya. Penolakan itu membuat Urwaci merasa dipermalukan.
Kutukan Sang Bidadari
Malam turun di kahyangan.
Urwaci masih menyimpan amarah.
Baginya, penolakan Arjuna terasa seperti penghinaan. Ia telah membuka perasaannya, tetapi kesatria itu justru menolaknya tanpa mengubah pendiriannya.
Akhirnya kesabaran Urwaci habis.
Kemarahan seorang bidadari bukan sesuatu yang dapat dianggap ringan.
Dengan kekuatan yang dimilikinya, Urwaci menjatuhkan kutukan kepada Arjuna.
“Engkau akan kehilangan kejantananmu.”
Kutukan itu tidak dapat ditarik kembali.
Arjuna menerima akibat dari keputusan yang telah diambilnya. Ia tidak membalas kemarahan Urwaci. Kesatria itu hanya menerima takdir yang kini harus dijalaninya.
Namun apa yang tampak sebagai kemalangan ternyata kelak menjadi bagian penting dari perjalanan Arjuna.
Kutukan yang Menjadi Jalan Keselamatan
Waktu terus berjalan, dan Arjuna akhirnya harus menghadapi masa ketika dirinya bersama saudara-saudaranya harus hidup dalam penyamaran.
Para Pandawa memasuki tahun terakhir masa pembuangan mereka. Mereka harus tinggal di Kerajaan Wirata tanpa membiarkan siapa pun mengetahui identitas sebenarnya.
Di sinilah kutukan Urwaci menemukan maknanya.
Arjuna menggunakan keadaan yang telah menimpanya untuk menyamarkan dirinya. Ia mengambil nama Wrehanala dan tampil sebagai seorang guru tari serta seni bagi para perempuan di lingkungan kerajaan.
Tidak seorang pun di Wirata mengetahui bahwa di balik sosok tersebut tersembunyi Arjuna, salah seorang kesatria terbesar dari keluarga Pandawa.
Kutukan yang dahulu lahir dari kemarahan Urwaci justru menjadi perlindungan bagi Arjuna.
Tanpa kutukan itu, penyamarannya mungkin akan jauh lebih sulit.
Dan dengan penyamaran tersebut, Arjuna berhasil melewati masa terakhir pembuangan Pandawa tanpa membuka jati dirinya. Kisah kutukan Urwaci akhirnya memiliki akibat yang jauh berbeda dari yang mungkin pernah dibayangkan sang bidadari.
Jejak Dewi Urwaci
Setelah peristiwa itu, nama Urwaci tetap tinggal di antara kisah para bidadari kahyangan.
Ia adalah putri Sang Hyang Nioya dan Dewi Darmastuti, saudari Dewi Warsiki, dan salah satu bidadari yang memiliki tempat tersendiri di antara para penghuni Suralaya.
Namun namanya paling kuat dikenang karena satu peristiwa: pertemuannya dengan Arjuna.
Urwaci datang dengan perasaan yang kemudian berubah menjadi kemarahan. Ia menjatuhkan kutukan karena merasa ditolak. Tetapi takdir memiliki cara sendiri untuk mengubah sebuah kemalangan menjadi jalan keselamatan.
Arjuna yang terkena kutukan justru dapat menggunakannya ketika harus menyembunyikan identitasnya di Wirata.
Dengan demikian, kutukan Urwaci tidak berakhir sebagai sekadar hukuman.
Ia menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang kesatria.
Dan di antara cahaya Kahyangan Argamaya, nama Dewi Urwaci tetap dikenang—bukan hanya karena kecantikannya, tetapi karena satu keputusan yang pernah mengubah jalan hidup Arjuna.
