Pada suatu hari, ketenangan Suralaya tiba-tiba pecah oleh suara gemuruh dari kejauhan.
Dari arah Kawah Candradimuka, lahar panas menyembur tinggi. Langit berubah merah, udara dipenuhi hawa panas, dan cahaya api menerangi seluruh penjuru kahyangan. Para dewa bergegas mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Di tengah gejolak itulah Dewi Uma melahirkan seorang putra.
Ketika tangis pertama sang bayi terdengar, kobaran api Candradimuka semakin membesar. Panasnya menjalar hingga ke istana Suralaya, tetapi anehnya tidak membakar apa pun. Seolah-olah seluruh api itu justru sedang menyambut kelahiran seorang anak yang membawa sifatnya sendiri.
Sang Hyang Manikmaya datang melihat putranya.
Ia memandangi bayi itu cukup lama sebelum akhirnya berkata bahwa anak tersebut akan menjadi penguasa api.
Namanya Sang Hyang Brahma.
Sejak kelahirannya, api seakan menjadi bagian dari dirinya.
Putra Kedua Sang Hyang Manikmaya
Brahma tumbuh sebagai putra kedua Sang Hyang Manikmaya dan Dewi Uma. Kakaknya, Sang Hyang Sambo, telah lebih dahulu menempati kedudukannya sendiri di Kahyangan Swelagringging. Setelah Brahma, lahir pula Sang Hyang Indra, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Wisnu, dan kemudian Batara Kala. (turn0search0)
Namun Brahma berbeda dari saudara-saudaranya.
Di dalam dirinya terdapat semangat yang menyala-nyala. Ketika marah, kekuatannya dapat meledak seperti api yang menyambar hutan kering. Ketika bertiwikrama, tubuhnya memancarkan cahaya dan kobaran api yang membuat siapa pun yang berhadapan dengannya harus berpikir dua kali.
Manikmaya kemudian memberinya sebuah kedudukan di Kahyangan Tursina Geni, tempat yang sesuai dengan kekuatan yang mengalir di dalam dirinya.
Di sana Brahma menjalankan tugasnya.
Ia menjadi penguasa api dan salah satu kekuatan penting yang menjaga keseimbangan Suralaya.
Tiga Perempuan dari Argamaya
Waktu berlalu, dan Brahma mulai membangun keluarganya sendiri.
Jalannya membawa dirinya kepada tiga putri Sang Hyang Nioya: Dewi Saci, Dewi Sarasyati, dan Dewi Rarasyati. Ketiganya kemudian menjadi istri Brahma. Dari ketiga perkawinan itu lahirlah keturunan yang sangat banyak dan menyebar ke berbagai penjuru dunia para dewa. (turn0search0)
Dewi Saci memberinya dua putra, Batara Maricibrama dan Batara Naradabrama.
Dari Dewi Sarasyati lahir lima putra: Batara Bramanasa, Batara Bramasadewa, Batara Bramanasadara, Batara Bramarakanda, dan Batara Bramanaresi.
Sementara dari Dewi Rarasyati lahir empat belas anak, di antaranya Dewi Bremani, Dewi Bramanisri, Batara Bramaniskala, Batara Bramanayara, Dewi Bramanista, Dewi Bramaniyari, Dewi Bramaniyodi, Batara Bramanayana, Batara Bramaniyata, Batara Bramanasatama, Dewi Bramanayekti, Dewi Bramaniyuta, Dewi Dresnala, dan Dewi Dreswati. (turn0search3)
Keluarga Brahma pun semakin besar.
Namun di antara sekian banyak keturunannya, beberapa kelak membawa namanya menuju kisah-kisah besar di dunia manusia.
Api yang Menjadi Kekuatan
Brahma bukan dewa yang hanya bersemayam di Tursina Geni.
Ketika Suralaya menghadapi bahaya, kekuatannya dibutuhkan. Api yang menjadi bagian dari dirinya dapat menjadi senjata sekaligus perlindungan.
Pada suatu ketika, Brahma memberikan pusaka Alugara dan Nanggala kepada Kakrasana ketika kesatria itu sedang menjalani pertapaan. Pusaka tersebut kelak menjadi bagian penting dari perjalanan Kakrasana hingga ia dikenal sebagai Baladewa. (turn0search2)
Namun kekuatan Brahma tidak selalu digunakan untuk membantu manusia.
Ada kalanya ia justru turun ke Arcapada dengan maksud yang membawa persoalan baru.
Dalam beberapa kisah, Brahma menjelma sebagai raja di dunia manusia. Ia turun dari kahyangan dengan membawa kekuatan dan kehendaknya sendiri. Tetapi dunia manusia memiliki aturan yang berbeda dari Suralaya. Apa yang dapat dilakukan seorang dewa di kahyangan tidak selalu dapat dilakukan tanpa akibat di bumi.
Dan di sanalah Brahma berkali-kali berhadapan dengan para kesatria serta para pamomong yang menjaga keseimbangan dunia.
Ketika Api Berhadapan dengan Kebenaran
Brahma pernah memiliki kehendak untuk mengatur kehidupan manusia sesuai dengan keinginannya. Dalam salah satu kisah, ia bahkan berusaha mengatur perkawinan putrinya, Dewi Dresnala, dengan Dewa Srani dan memisahkannya dari Arjuna.
Bagi Brahma, keputusan itu terasa benar.
Ia adalah ayah.
Ia merasa berhak menentukan masa depan anaknya.
Namun para Pandawa dan Semar tidak membiarkan keputusan itu berlangsung begitu saja. Perselisihan pun terjadi, dan kekuatan seorang dewa akhirnya berhadapan dengan keberanian mereka yang berdiri di pihak kebenaran. (turn0search2)
Brahma harus menghadapi kenyataan bahwa kekuatan tidak selalu membuat seseorang benar.
Api yang terlalu besar dapat menerangi dunia.
Tetapi jika tidak dikendalikan, api yang sama juga dapat membakar apa pun yang berada di dekatnya.
Warisan Sang Hyang Brahma
Di Suralaya, Sang Hyang Brahma tetap bersemayam di Tursina Geni. Kobaran api yang dahulu menyertai kelahirannya masih menjadi lambang kekuatannya.
Dari Dewi Saci, Dewi Sarasyati, dan Dewi Rarasyati, lahir keturunan yang jumlahnya begitu banyak hingga garis darah Brahma menyebar jauh melampaui kahyangan. Beberapa keturunannya kelak memasuki dunia manusia dan menjadi bagian dari silsilah para raja serta kesatria.
Namun Brahma sendiri tetap menjadi dewa api.
Ia adalah putra kedua Sang Hyang Manikmaya, saudara Sang Hyang Sambo, Sang Hyang Indra, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Wisnu, dan Batara Kala.
Di tangannya, api dapat menjadi kekuatan.
Di dalam dirinya, api menjadi sifat.
Dan dalam perjalanan panjangnya, Brahma belajar bahwa api tidak hanya memiliki kemampuan untuk menghancurkan.
Api juga dapat menerangi.
Dapat menghangatkan.
Dapat menempa sesuatu yang rapuh menjadi kuat.
Karena itu, setiap kali cahaya merah muncul dari kejauhan dan hawa panas mulai memenuhi udara Suralaya, para dewa tahu bahwa kekuatan Sang Hyang Brahma sedang bergerak.
Di Kahyangan Tursina Geni, sang dewa tetap berjaga.
Api di sekelilingnya tidak pernah benar-benar padam.
**Sang Hyang Brahma tetap menyala—sebagai penguasa api, putra Manikmaya, dan salah satu kekuatan besar yang menjaga keseimbangan dunia para dewa.**
