Hujan turun tanpa henti di Suralaya.
Awan hitam menggantung rendah di atas kahyangan. Kilat berkali-kali membelah langit, disusul suara guntur yang mengguncang istana para dewa. Para penghuni Suralaya bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
Di tengah gemuruh itulah Dewi Uma melahirkan seorang putra.
Ketika bayi itu lahir, kilat kembali menyambar. Cahaya putih memenuhi ruangan, begitu terang hingga para pelayan kahyangan harus menundukkan wajah.
Sang Hyang Manikmaya mendekati putranya.
Ia melihat sesuatu yang berbeda pada bayi tersebut. Ada ketenangan dalam wajahnya, tetapi juga kekuatan yang seolah tersimpan di balik cahaya matanya.
“Anak ini membawa perbawa halilintar,” ujar Manikmaya.
Putra ketiga itu kemudian diberi nama Sang Hyang Indra. (id.wikisource.org)
Ia tumbuh menjadi salah satu putra penting Suralaya, di antara Sang Hyang Sambo, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Wisnu, dan Batara Kala.
Namun Indra memiliki jalan hidupnya sendiri.
Kahyangan Rinjamaya
Ketika dewasa, Indra meninggalkan pusat istana ayahnya dan bersemayam di Kahyangan Rinjamaya, yang juga dikenal sebagai Kaindran atau Tinjomaya dalam berbagai tradisi pewayangan.
Di tempat itu ia memegang tugas yang tidak ringan. Ia menjadi penguasa para bidadari dan dipercaya mengatur berbagai urusan yang berkaitan dengan keindahan dan kesenian. Sifatnya yang penyayang membuatnya dekat dengan para penghuni kahyangan. (omahwayangklaten.or.id)
Namun di balik ketenangan itu tersimpan kekuatan yang besar.
Jika Indra bertiwikrama, perbawa halilintar memancar dari tubuhnya. Ia juga memiliki kendaraan berupa gajah besar bernama Erawana, serta pusaka yang berkaitan dengan kekuatan petir.
Karena itulah, ketika kahyangan berada dalam bahaya, Indra bukanlah dewa yang dapat dianggap ringan.
Pertemuan dengan Dewi Wiyati
Di Kahyangan Rinjamaya, Indra kemudian bertemu dengan Dewi Wiyati, putri Sang Hyang Nioya.
Dewi Wiyati bukan sekadar bidadari yang datang dan pergi di antara taman-taman kahyangan. Pertemuan mereka membawa keduanya menjadi pasangan.
Dari perkawinan itu lahirlah tujuh anak: Dewi Tara, Dewi Tari, Batara Citrarata, Batara Citragana, Batara Jayantaka, Batara Jayantara, dan Batara Harjunawangsa. ([turn0search6])
Rumah tangga Indra dan Wiyati kemudian menjadi salah satu cabang keluarga besar para dewa.
Namun anak-anak mereka kelak membawa kisahnya masing-masing.
Dewi Tara akan berhubungan dengan bangsa wanara.
Dewi Tari akan memasuki keluarga Alengka.
Sementara anak-anak laki-laki mereka akan tumbuh sebagai bagian dari keluarga para dewa.
Indra menyaksikan semua itu dari Rinjamaya.
Ketika Putrinya Membawa Masalah
Ketenangan Indra suatu hari terusik oleh persoalan yang datang dari dunia manusia.
Dewi Tara menjadi pusat perhatian dua tokoh besar dari kerajaan wanara, Subali dan Sugriwa. Perselisihan mengenai Tara akhirnya berkembang menjadi persoalan yang lebih besar di antara keduanya. Dalam perjalanan kisah tersebut, Tara kemudian menjadi bagian dari keluarga Subali dan melahirkan Anggada. ([turn0search5])
Indra tidak dapat mengendalikan seluruh jalan hidup putrinya.
Ia hanya dapat menyaksikan bagaimana anak yang dahulu tumbuh di kahyangan akhirnya memiliki kehidupan sendiri di Arcapada.
Putrinya yang lain, Dewi Tari, juga membawa garis keluarga mereka menuju arah yang berbeda. Ia kelak menjadi istri Dasamuka, penguasa Alengka, dan melahirkan Indrajit.
Darah Sang Hyang Indra pun mengalir ke dunia manusia melalui jalan yang tidak pernah sederhana.
Sang Dewa yang Turun ke Arcapada
Indra sendiri pernah meninggalkan kahyangan.
Ia turun ke Arcapada dan menjadi raja di Medanggana, dengan gelar Prabu Sakra. Di dunia manusia, ia tidak lagi hanya dikenal sebagai dewa yang bersemayam di Rinjamaya. Ia harus menghadapi kehidupan sebagai seorang penguasa yang berhadapan langsung dengan manusia, kerajaan, dan berbagai persoalan dunia. ([turn0search9])
Namun kehidupan Indra di bumi tidak berlangsung selamanya.
Ia kembali kepada kedudukannya sebagai dewa.
Pada kesempatan lain, ia turun lagi dengan wujud berbeda ketika Arjuna sedang menjalani tapa sebagai Bagawan Ciptaning di Goa Mintaraga. Indra mengambil wujud seorang brahmana tua bernama Resi Padya untuk menguji dan membangunkan Arjuna dari pertapaannya. ([turn0search12])
Arjuna tidak mudah digoyahkan.
Kesungguhannya telah melewati berbagai ujian.
Indra akhirnya mengetahui bahwa kesatria itu memang memiliki keteguhan yang luar biasa.
Ia kembali ke kahyangan dengan membawa penghormatan yang lebih besar kepada Arjuna.
Penjaga Para Bidadari
Kehidupan Sang Hyang Indra kemudian terus berjalan di antara kahyangan dan Arcapada.
Di Rinjamaya, para bidadari berada dalam pengawasannya. Ia mengenal kehidupan mereka, mengatur tugas-tugas mereka, dan memastikan keindahan kahyangan tetap terjaga.
Namun Indra bukan hanya penguasa keindahan.
Ia adalah putra Manikmaya yang membawa kekuatan halilintar.
Ketika perang atau bahaya datang, sifat lembutnya dapat berubah menjadi ketegasan seorang dewa prajurit. Ia mampu berdiri menghadapi kekuatan yang mengancam Suralaya.
Karena itu, sosok Indra memiliki dua sisi yang berjalan berdampingan.
Ia dapat menjadi penguasa keindahan dan kesenian.
Namun ketika langit menggelegar dan cahaya petir menyambar dari tangannya, para musuh para dewa akan mengetahui bahwa mereka sedang berhadapan dengan salah satu putra Batara Guru.
Jejak Sang Hyang Indra
Di balik kehidupannya sebagai dewa, Indra meninggalkan jejak yang jauh lebih luas melalui anak-anaknya.
Dewi Tara membawa garis keturunannya menuju bangsa wanara dan melahirkan Anggada.
Dewi Tari membawa darah Indra menuju Alengka dan menjadi ibu Indrajit.
Sementara keturunan lainnya tetap menjadi bagian dari keluarga para dewa.
Dengan demikian, kehidupan Indra tidak berhenti di Rinjamaya.
Darahnya bergerak dari kahyangan menuju hutan, kerajaan wanara, dan Alengka. Dari sana, kisahnya kembali bertemu dengan tokoh-tokoh besar dalam perjalanan Rama dan para kesatria.
Sang Hyang Indra sendiri tetap kembali ke tempatnya.
Di Rinjamaya.
Di tengah cahaya yang lembut dan suara gamelan kahyangan, ia kembali menjalankan tugasnya. Para bidadari kembali memenuhi taman-taman, sementara awan perlahan bergerak di atas istana.
Sesekali, kilat masih membelah langit.
Ketika cahaya itu muncul, para penghuni kahyangan tahu bahwa Sang Hyang Indra sedang memperlihatkan kekuatannya.
Putra ketiga Sang Hyang Manikmaya itu telah menempuh jalan panjang—dari kelahiran yang disertai halilintar, menjadi penguasa Rinjamaya, turun sebagai Prabu Sakra ke dunia manusia, hingga menjadi ayah dari anak-anak yang membawa darahnya ke berbagai penjuru alam.
Dan di antara gemuruh petir dan keindahan kahyangan, Sang Hyang Indra tetap berdiri sebagai penjaga keseimbangan—dewa yang lembut kepada mereka yang berada di bawah perlindungannya, tetapi mampu menjadi dahsyat ketika langit membutuhkan kekuatannya.
