Gelombang laut telah berulang kali menghantam pantai, tetapi malam itu samudra terasa berbeda.
Jauh di bawah permukaannya, di tempat yang tidak pernah disentuh cahaya matahari, berdiri sebuah kerajaan yang megah. Pilar-pilar batu berkilauan seperti mutiara, sementara arus air bergerak perlahan di antara taman-taman karang dan istana yang tersembunyi di kedalaman.
Di sanalah Sang Hyang Baruna bersemayam.
Ia duduk dalam keheningan, memandangi kehidupan yang bergerak di sekeliling kerajaannya. Wajahnya menyerupai ikan, tubuhnya bersisik, tetapi sorot matanya tenang dan penuh kewibawaan. Tidak ada yang berani mengganggu ketenangan Dasar Samodra tanpa alasan.
Di hadapannya tersimpan sebuah cupu kecil.
Benda itu tampak sederhana, tetapi Baruna menjaganya seperti menjaga nyawanya sendiri. Di dalamnya terdapat air kehidupan Mayausadi, air sakti yang mampu mengembalikan kehidupan kepada mereka yang telah meninggal.
Baruna tidak pernah menggunakannya sembarangan.
Air itu adalah amanah.
Dan suatu hari, amanah itu akan membawanya berhadapan dengan dunia di atas samudra.
Air yang Tidak Lagi Mengalir
Di tanah Maespati, sebuah peristiwa besar mengguncang kehidupan manusia. Sungai Narmada yang biasanya mengalir deras tiba-tiba berhenti.
Airnya menggenang tanpa bergerak.
Baruna merasakan keganjilan itu sampai ke dasar samudra.
Ia mengangkat wajahnya. Arus yang biasanya bergerak bebas terasa berubah. Kehidupan di dalam air ikut terganggu. Ikan-ikan bergerak gelisah, sementara pusaran air yang menghubungkan sungai dengan lautan tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya.
Baruna kemudian mengetahui penyebabnya.
Prabu Arjunasasra sedang bertiwikrama dalam wujud raksasa yang sangat besar. Tubuhnya membentang hingga menghalangi aliran Narmada.
Namun bukan hanya sungai yang menjadi persoalan.
Di Maespati, Dewi Citrawati dan para putri kerajaan telah mengalami kematian akibat ulah Ditya Sukasarana. Kegembiraan kerajaan berubah menjadi duka. Tangisan terdengar di antara istana.
Baruna akhirnya keluar dari kedalaman.
Ia membawa cupu yang selama ini dijaganya.
Ketika air Mayausadi diteteskan, kehidupan kembali kepada mereka yang telah kehilangan nyawa. Kesedihan yang memenuhi istana berubah menjadi kelegaan. Baruna tidak meminta penghormatan atas pertolongannya. Setelah tugasnya selesai, ia kembali menuju samudra.
Tetapi kisahnya dengan dunia manusia belum berakhir.
Ketika Rama Datang ke Laut
Zaman berganti.
Kerajaan-kerajaan tumbuh dan runtuh, para raja berganti, dan kisah manusia berjalan menuju masa ketika Ramawijaya harus menghadapi Alengka.
Di hadapan Rama terbentang samudra.
Di seberangnya berdiri negeri yang harus dicapainya bersama pasukan wanara. Namun tidak ada jalan yang dapat dilewati. Laut terlalu luas untuk diseberangi begitu saja.
Pasukan mulai membawa batu-batu besar.
Satu demi satu batu dilemparkan ke tepian laut. Mereka berusaha membangun jalan, tetapi pekerjaan itu membutuhkan kekuatan yang jauh lebih besar daripada tenaga para wanara.
Di kedalaman, Baruna mengetahui kedatangan mereka.
Ia melihat kegigihan Rama dan pasukannya. Mereka tidak datang untuk menaklukkan samudra. Mereka hanya membutuhkan jalan untuk melanjutkan perjalanan.
Baruna akhirnya membantu.
Ikan-ikan besar dikerahkan untuk menahan dan mengatur gerakan air. Batu-batu yang dibawa para wanara dapat disusun menjadi tambak yang membentang semakin jauh ke tengah laut.
Hari demi hari, jalan itu semakin panjang.
Hingga akhirnya pasukan Rama dapat menyeberangi samudra menuju Alengka.
Baruna kembali ke kerajaannya.
Ia tidak ikut dalam perang yang akan terjadi di seberang laut. Tugasnya berada di tempat lain. Ia adalah penjaga samudra, dan selama laut tetap berada dalam keseimbangannya, ia akan tetap menjalankan amanah itu.
Pertemuan dengan Bima
Pada masa yang lain, seorang kesatria datang ke wilayah kekuasaan Baruna dalam keadaan yang berbeda.
Namanya Bima.
Tubuhnya terbawa arus hingga mencapai wilayah Kisiknarmada. Ketika akhirnya sampai di hadapan Baruna, Bima berada dalam keadaan yang membutuhkan pertolongan.
Baruna tidak membiarkannya begitu saja.
Ia menolong sang kesatria dan memberikan pertolongan dengan air kehidupan yang berada dalam kekuasaannya. Dari pertemuan itulah jalan Bima kemudian bersinggungan dengan keluarga Baruna.
Di kedalaman samudra, Bima bertemu dengan Dewi Urangayu, putri Baruna.
Pertemuan mereka membawa sebuah ikatan baru.
Dewi Urangayu kemudian menjadi istri Bima, dan dari perkawinan mereka lahirlah seorang putra bernama Antasena.
Anak itu kelak tumbuh dengan warisan yang tidak biasa. Dari ayahnya mengalir darah seorang Pandawa. Dari ibunya mengalir darah penguasa samudra.
Baruna pun menyaksikan satu lagi cabang keluarganya bergerak menuju dunia manusia.
Putri-Putri yang Membawa Darah Samudra
Namun Dewi Urangayu bukan satu-satunya anak Baruna yang memiliki hubungan dengan dunia manusia.
Dalam perjalanan hidupnya, Baruna juga memiliki putri-putri lain. Ketika ia turun ke dunia dalam wujud Begawan Badawanganala, kehidupannya kembali bersentuhan dengan manusia.
Di sebuah tempat pertapaan dekat muara Sungai Waila, Baruna menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa. Di sanalah lahir dua putri, Dewi Srengganawati dan Dewi Srenggini.
Kelak, keduanya menikah dengan Nakula dan Sadewa.
Sekali lagi, garis keturunan Baruna memasuki keluarga para kesatria.
Darah yang berasal dari kedalaman samudra kini mengalir di antara keluarga besar Pandawa.
Baruna telah menjadi bagian dari kisah mereka tanpa harus meninggalkan kerajaannya untuk selamanya.
Kembali ke Dasar Samodra
Setelah berbagai peristiwa berlalu, Baruna kembali ke tempatnya.
Dasar Samodra masih sama.
Arus tetap bergerak di antara istana dan taman-taman karang. Makhluk-makhluk laut kembali berenang tanpa rasa takut. Di atas sana, dunia manusia terus berubah, tetapi di kedalaman laut waktu seakan berjalan dengan irama yang berbeda.
Baruna kembali duduk di singgasananya.
Cupu Mayausadi kembali berada dalam penjagaannya.
Ia telah melihat banyak manusia datang dan pergi. Ia telah menolong raja, membantu kesatria, membuka jalan bagi pasukan, dan memberikan kehidupan melalui air sakti yang dipercayakan kepadanya.
Namun Baruna tidak pernah meminta dunia mengingat namanya.
Ia hanya menjaga apa yang menjadi tanggung jawabnya.
Samudra.
Kehidupan di dalamnya.
Dan rahasia-rahasia yang tersembunyi jauh di bawah gelombang.
Di permukaan, manusia mungkin hanya melihat laut sebagai hamparan air yang tidak berujung. Mereka tidak melihat istana di kedalamannya. Mereka tidak mendengar suara para penghuni Dasar Samodra. Mereka tidak mengetahui siapa yang mengawasi arus ketika malam tiba.
Tetapi di sana, jauh di bawah gelombang, Sang Hyang Baruna masih berjaga.
Dan selama samudra belum kehilangan denyut kehidupannya, sang penguasa ikan itu akan tetap berada di kerajaannya—menjaga dunia yang tersembunyi di balik permukaan air.
