Pagi di Kahyangan Argamaya selalu dipenuhi suara yang lembut. Di antara taman-taman yang dipenuhi bunga, para putri bidadari berjalan di bawah pepohonan yang tidak pernah kehilangan kesegaran. Di tempat itulah Dewi Warsiki tumbuh, salah seorang dari empat puluh putri Sang Hyang Nioya dan Dewi Darmastuti.
Sejak kecil, kecantikannya membuatnya mudah dikenali di antara saudari-saudarinya. Namun Warsiki bukan hanya memiliki paras yang indah. Ia tumbuh sebagai bidadari yang kemudian dipercaya menjalankan tugas khusus di Suralaya.
Ketika Sang Hyang Manikmaya mengadakan upacara-upacara kedewatan, Warsiki termasuk di antara tujuh bidadari yang selalu hadir mendampinginya. Bersamanya terdapat Dewi Supraba, Dewi Lenglengdanu, Dewi Irimirin, Dewi Gagarmayang, Dewi Tunjungbiru, dan Dewi Wilutama.
Warsiki pun semakin sering berada di Suralaya.
Ia tidak pernah menyangka bahwa kedudukannya sebagai bidadari akan membawanya turun ke dunia manusia dan bahkan membuat kahyangan suatu hari berada di ambang peperangan.
Turun ke Goa Mintaraga
Suatu ketika, kabar tentang seorang kesatria yang sedang bertapa sampai ke Suralaya.
Arjuna telah meninggalkan kehidupan istana dan pergi menuju Goa Mintaraga di lereng Gunung Indrakila. Di sana ia menjalani tapa dengan ketekunan yang membuat para dewa memperhatikannya.
Sang Hyang Indra kemudian memanggil tujuh bidadari.
Warsiki datang bersama Supraba, Lenglengdanu, Irimirin, Gagarmayang, Tunjungbiru, dan Wilutama.
“Turunlah ke Arcapada,” demikian amanat yang mereka terima. Mereka harus mencoba menggoyahkan pertapaan Arjuna.
Ketujuh bidadari itu pun meninggalkan Suralaya.
Mereka tiba di sekitar Goa Mintaraga dan berusaha menarik perhatian sang pertapa dengan segala keindahan yang mereka miliki. Namun Arjuna tetap duduk dalam semedinya. Suara-suara di sekelilingnya tidak menggoyahkan pikirannya. Keindahan yang sengaja dihadirkan di hadapannya tidak mampu memutuskan pertapaannya.
Warsiki akhirnya menyadari bahwa tugas mereka tidak akan mudah.
Arjuna tidak sedang mencari kesenangan duniawi.
Ia sedang mengejar sesuatu yang jauh lebih besar.
Ketujuh bidadari itu akhirnya kembali ke Suralaya dengan membawa kegagalan.
Namun perjalanan mereka ke bumi meninggalkan satu kisah yang kelak menjadi bagian dari legenda Arjuna.
Kecantikan yang Mengguncang Suralaya
Sekembalinya Warsiki ke kahyangan, kehidupannya kembali berjalan seperti biasa. Ia tetap menjalankan tugasnya sebagai salah satu bidadari upacara Suralaya.
Namun kecantikannya ternyata telah menarik perhatian seseorang yang tidak mudah menerima penolakan.
Bathara Kalagotama, putra Batara Kala dan Dewi Durga, menginginkan Warsiki menjadi istrinya.
Keinginan itu sampai kepada Sang Hyang Manikmaya.
Tetapi Manikmaya menolaknya.
Kalagotama tidak menerima keputusan tersebut dengan lapang hati. Penolakan itu kemudian berkembang menjadi persoalan yang jauh lebih besar. Para raksasa dari Setragandamayit bersiap menghadapi para dewa Suralaya.
Apa yang bermula dari keinginan seorang raksasa terhadap seorang bidadari berubah menjadi ancaman bagi seluruh kahyangan.
Warsiki menyaksikan semuanya dengan kegelisahan.
Ia tidak pernah meminta pertikaian itu terjadi.
Ia hanya seorang bidadari yang menjalankan tugasnya di Suralaya. Namun kecantikannya telah membuat kekuatan besar saling berhadapan.
Perang di Ambang Kahyangan
Pertempuran akhirnya pecah.
Para dewa Suralaya menghadapi pasukan raksasa dari Setragandamayit. Kekuatan kedua belah pihak begitu besar sehingga peperangan tidak mudah dihentikan.
Warsiki dan para bidadari lainnya berada jauh dari medan pertempuran, tetapi suara peperangan tetap terdengar hingga ke penjuru Suralaya.
Hari berganti, tetapi pertikaian belum juga berakhir.
Hingga akhirnya Sang Hyang Narada turun ke Arcapada untuk mencari pertolongan. Ia datang kepada Resi Manumayasa di pertapaan Retawu, Gunung Saptaarga.
Sang resi kemudian turun tangan.
Dengan kesaktiannya, Manumayasa menghadapi Kalagotama dan saudara-saudaranya. Pertempuran itu akhirnya berakhir setelah Kalagotama beserta saudara-saudaranya berhasil dikalahkan.
Suralaya kembali tenang.
Warsiki pun kembali menjalankan kehidupannya sebagai bidadari.
Bidadari yang Tetap di Suralaya
Setelah peperangan berlalu, suara senjata kembali berganti dengan suara gamelan dan upacara kedewatan. Taman-taman Suralaya kembali dipenuhi ketenangan.
Warsiki tetap berada di sana bersama keenam bidadari lainnya.
Tidak ada lagi raksasa yang datang menuntutnya.
Tidak ada lagi kesatria yang harus mereka ganggu pertapaannya.
Namun pengalaman itu meninggalkan sesuatu dalam diri Warsiki. Ia telah melihat bagaimana sebuah keinginan dapat berubah menjadi pertikaian besar. Ia juga telah menyaksikan bagaimana para dewa harus berjuang mempertahankan ketenteraman Suralaya.
Hari itu, Warsiki kembali berdiri di antara para bidadari ketika upacara kedewatan berlangsung.
Cahaya memenuhi kahyangan.
Musik terdengar perlahan.
Tidak seorang pun yang melihatnya akan menyangka bahwa bidadari yang berdiri tenang di sana pernah menjadi sebab sebuah peperangan besar hampir pecah di antara para dewa dan raksasa.
Warsiki hanya tersenyum kecil.
Kemudian ia kembali menjalankan tugasnya.
Di balik kecantikannya terdapat perjalanan panjang—dari putri Kahyangan Argamaya, menjadi bidadari Suralaya, turun ke Arcapada bersama keenam saudarinya, hingga akhirnya menyaksikan sendiri bagaimana kehidupannya pernah mengguncang ketenteraman para dewa.
Dan setelah semuanya berlalu, Warsiki tetap berada di kahyangan.
Sebagai salah satu dari tujuh bidadari yang mendampingi Sang Hyang Manikmaya.
Sebagai putri Dewi Darmastuti dan Sang Hyang Nioya.
Dan sebagai Dewi Warsiki, bidadari yang kecantikannya pernah membuat Suralaya berada di ambang perang.
