Di Kahyangan Alang-Alang Kumitir, Dewi Rekatawati melahirkan sesuatu yang membuat seluruh alam para hyang terdiam. Bukan bayi yang keluar dari rahimnya, melainkan sebutir telur yang memancarkan cahaya. Sang Hyang Tunggal memandang telur itu dengan kebingungan. Ia tidak pernah membayangkan keturunannya akan lahir dalam wujud demikian.
Telur itu kemudian dibawa menghadap Sang Hyang Wenang. Dengan kekuatan yang dimilikinya, Wenang membuka rahasia yang tersembunyi di dalam telur tersebut. Ketika telur itu pecah, tiga bagian di dalamnya melahirkan tiga sosok yang kelak akan mengubah perjalanan para dewa. Dari kulit telur lahirlah seorang putra yang diberi nama Sang Hyang Antaga, juga dikenal sebagai Sang Hyang Tejamaya atau Tejamantri. Dari putih telur lahir Sang Hyang Ismaya, sedangkan dari kuning telur lahir Sang Hyang Manikmaya.
Antaga menjadi putra tertua di antara ketiganya. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa sebagai anak sulung, dirinya memiliki hak lebih besar untuk menerima warisan kekuasaan. Ia memiliki kesaktian dan merasa mampu berdiri sejajar dengan saudara-saudaranya. Namun di dalam keluarga para hyang, kesaktian saja tidak cukup untuk menentukan siapa yang paling layak menjadi pemimpin.
Tiga Bersaudara dan Sebuah Perselisihan
Ketika ketiga bersaudara itu mulai dewasa, pertanyaan tentang siapa yang akan menjadi penerus Sang Hyang Tunggal mulai muncul. Antaga memandang dirinya sebagai anak tertua. Ismaya memiliki keyakinan sendiri, sedangkan Manikmaya juga tidak mau berada di bawah saudara-saudaranya.
Pertengkaran pun terjadi.
Mereka saling membanggakan kekuatan dan kesaktian. Tidak ada yang bersedia mengalah. Suasana yang semula tenang berubah menjadi perselisihan antara tiga saudara yang sama-sama merasa memiliki hak untuk menjadi pewaris.
Sang Hyang Tunggal akhirnya turun tangan. Ia tidak ingin perselisihan itu berubah menjadi perpecahan. Maka ia memberikan sebuah ujian untuk menentukan siapa yang paling pantas memegang kekuasaan.
Ketiganya harus menunjukkan kesaktian masing-masing.
Ujian Gunung Mahameru
Gunung Mahameru menjadi bagian dari ujian tersebut. Antaga maju dengan penuh keyakinan. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya memang layak menjadi penguasa karena kekuatannya berada di atas kedua saudaranya.
Dengan kesaktiannya, Antaga berusaha menelan Gunung Mahameru. Namun gunung itu terlalu besar untuk ditaklukkan dengan cara tersebut. Tubuh Antaga mengalami perubahan yang tidak dapat dipisahkan dari kegagalannya menguasai gunung tersebut. Bentuk fisiknya kemudian berubah, dan peristiwa itu menjadi awal dari jalan hidupnya yang berbeda dari kedua saudaranya.
Ismaya kemudian mencoba. Ia berhasil memasukkan Gunung Mahameru ke dalam tubuhnya, tetapi tidak mampu mengeluarkannya kembali. Manikmaya pun menjalani ujian dengan caranya sendiri. (journal.upgris.ac.id)
Pada akhirnya, Sang Hyang Tunggal menetapkan bahwa Manikmaya adalah putra yang paling pantas meneruskan kekuasaan. Antaga dan Ismaya harus menerima jalan hidup yang berbeda.
Keputusan itu mengubah segalanya.
Dari Tejamaya Menjadi Togog
Antaga tidak menerima takhta yang diinginkannya. Ia kemudian dikenal sebagai Tejamaya, tetapi dalam perjalanan berikutnya ia turun ke dunia manusia dan mengambil wujud yang berbeda. Tubuhnya berubah menjadi sosok yang dikenal sebagai Togog.
Di dunia manusia, Togog tidak menjadi raja atau penguasa. Ia justru menjalankan tugas sebagai pembimbing bagi para penguasa yang berada di luar garis keturunan para Pandawa. Ia mendampingi raja-raja yang sering kali memiliki kekuatan besar tetapi membutuhkan seseorang untuk memberikan nasihat.
Jalan hidupnya jauh berbeda dari Manikmaya. Saudara yang dahulu bersaing dengannya kini menjadi penguasa kahyangan dengan gelar Batara Guru. Ismaya juga turun ke dunia, tetapi mengambil jalan sebagai Semar, pengasuh dan pelindung para kesatria.
Sementara Antaga menjalani kehidupannya sebagai Togog.
Ketiganya berasal dari satu telur.
Ketiganya adalah saudara.
Namun takdir memisahkan mereka ke tiga jalan yang berbeda.
Penjaga Para Penguasa
Sebagai Togog, Antaga menjalani tugas yang tidak ringan. Ia menjadi pamomong bagi raja-raja yang berada di luar garis Pandawa. Ia harus mendampingi para penguasa yang memiliki watak dan kepentingan berbeda-beda, sekaligus memberikan nasihat ketika mereka menghadapi keputusan besar.
Togog sering kali berbicara dengan cara yang sederhana, tetapi di balik penampilannya tersimpan pengetahuan seorang dewa. Ia telah mengalami sendiri pahitnya kehilangan kesempatan menjadi penguasa. Ia tahu bahwa kekuatan tidak selalu membawa seseorang menuju kemenangan.
Karena itulah, ketika ia memberikan nasihat kepada para raja, kata-katanya sering kali terdengar seperti peringatan dari seseorang yang telah melihat terlalu banyak akibat dari kesombongan.
Namun tidak semua raja mau mendengarkannya.
Togog hanya dapat menunjukkan jalan. Keputusan tetap berada di tangan orang yang didampinginya.
Saudara yang Memilih Jalan Berbeda
Dalam perjalanan waktu, Antaga kembali melihat jejak kedua saudaranya. Manikmaya menjadi Batara Guru, penguasa Suralaya. Ismaya menjadi Semar dan turun ke dunia untuk mendampingi para kesatria yang menjalankan jalan kebenaran.
Antaga sendiri tetap berada di dunia manusia sebagai Togog.
Jika Semar mendampingi para ksatria Pandawa, Togog berada di sisi para penguasa yang menjadi lawan mereka. Posisi tersebut membuatnya sering berhadapan dengan berbagai tokoh besar dalam kisah pewayangan. Namun di balik perbedaan tempat berdiri itu, Togog dan Semar tetap berasal dari darah yang sama.
Mereka adalah dua saudara yang memilih jalan berbeda setelah gagal mendapatkan takhta.
Dan justru dari situlah dunia manusia memperoleh dua pamomong yang akan terus muncul dalam berbagai kisah.
Warisan Sang Hyang Antaga
Sang Hyang Antaga pada akhirnya tidak dikenal sebagai penguasa kahyangan. Nama Tejamaya pun lebih sering tenggelam di balik nama Togog yang kemudian melekat kuat pada dirinya. Namun perjalanan itu tidak menjadikannya tokoh yang gagal.
Ia hanya mendapatkan tugas yang berbeda.
Dari sebuah telur bercahaya, Antaga lahir sebagai anak sulung yang menginginkan takhta. Ia kemudian kehilangan kesempatan tersebut setelah ujian Gunung Mahameru mengubah jalan hidupnya. Dari seorang calon penguasa, ia berubah menjadi Tejamaya, lalu turun ke dunia sebagai Togog.
Di dunia manusia, ia tidak lagi mengejar singgasana.
Ia berdiri di samping para raja, memberikan nasihat, memperingatkan kesalahan, dan menyaksikan bagaimana kekuasaan dapat membawa seseorang kepada kejayaan maupun kehancuran.
Saudaranya, Manikmaya, memerintah dari kahyangan.
Saudaranya yang lain, Ismaya, menjadi Semar dan mengabdi kepada para kesatria.
Sedangkan Antaga berjalan sebagai Togog.
Tiga saudara yang lahir dari sebutir telur akhirnya memiliki tiga jalan yang sama sekali berbeda. Dan di balik wajah Togog yang sering dianggap lucu dalam pertunjukan wayang, tersimpan kisah seorang dewa yang pernah berdiri sebagai anak sulung, pernah menginginkan takhta, lalu menemukan bahwa takdirnya ternyata bukan untuk memerintah.
Takdirnya adalah menjadi penjaga dari mereka yang memerintah.
