Dewi Rekatawati: Perempuan dari Samodralaya

  •  
Dewi Rekatawati: Perempuan dari Samodralaya

Dewi Rekatawati: Perempuan dari Samodralaya

Jauh di wilayah perairan yang menjadi kerajaan Samodralaya, hiduplah seorang putri bernama Dewi Rekatawati. Ia adalah putri Prabu Yuyut, yang juga dikenal sebagai Resi Rekatama, penguasa Samodralaya. Dalam kisah-kisah para hyang, dirinya juga dikenal dengan nama Dewi Wirandi dan Dewi Rakti.

Rekatawati tumbuh di lingkungan yang berbeda dari keluarga para hyang di kahyangan. Ayahnya memiliki wujud yang tidak biasa, menyerupai seekor yuyu atau kepiting raksasa, dan menguasai kerajaan di alam perairan. Dari tempat itulah perjalanan Rekatawati kemudian membawanya bertemu dengan Sang Hyang Tunggal, putra Sang Hyang Wenang dan Dewi Sahoti.

Pertemuan tersebut akhirnya membawa keduanya menjadi pasangan. Sang Hyang Wenang kemudian merestui pernikahan Sang Hyang Tunggal dengan Dewi Rekatawati. Setelah itu, Rekatawati meninggalkan Samodralaya dan memasuki kehidupan keluarga para hyang.

Telur yang Membawa Cahaya

Kehidupan Dewi Rekatawati bersama Sang Hyang Tunggal kemudian menghadirkan sebuah peristiwa yang tidak pernah terjadi dalam kelahiran manusia biasa.

Ketika tiba waktunya melahirkan, bukan seorang bayi yang keluar dari rahimnya.

Yang lahir adalah sebutir telur.

Telur itu memancarkan cahaya dan memiliki kekuatan yang membuatnya tidak seperti benda biasa. Sang Hyang Tunggal melihat telur tersebut dengan perasaan yang bercampur antara heran dan malu. Ia tidak mengerti mengapa keturunannya harus lahir dalam wujud seperti itu. Ia kemudian memohon kepada Sang Hyang Wenang agar telur tersebut berubah menjadi anak-anak yang memiliki wujud sempurna.

Sang Hyang Wenang memenuhi permintaan tersebut.

Telur itu kemudian pecah menjadi tiga bagian: kulit, putih, dan kuning telur. Dari ketiga bagian tersebut muncul tiga sosok yang memiliki cahaya dan kesaktian masing-masing.

Dari kulit telur lahir putra pertama, Sang Hyang Tejamaya, yang juga dikenal sebagai Sang Hyang Antaga atau Tejamantri. Dari putih telur lahir putra kedua, Sang Hyang Ismaya. Sedangkan dari kuning telur lahir putra ketiga, Sang Hyang Manikmaya.

Tiga sosok itu kelak menjadi tiga tokoh besar dalam perjalanan para dewa.

Tiga Putra Sang Dewi

Dewi Rekatawati kini menjadi ibu dari tiga putra yang memiliki jalan hidup berbeda. Tejamaya, Ismaya, dan Manikmaya tumbuh di bawah pengawasan Sang Hyang Tunggal. Mereka memiliki kesaktian yang besar dan masing-masing membawa sifat serta kekuatan yang berbeda.

Ketiganya kemudian mulai mempertanyakan siapa yang paling berhak menjadi penerus kekuasaan. Perselisihan pun muncul. Mereka ingin membuktikan siapa yang paling pantas menjadi penguasa di antara saudara-saudaranya.

Sang Hyang Tunggal akhirnya menetapkan bahwa salah satu dari mereka kelak akan menjadi penguasa Tribuana. Namun sebelum keputusan itu benar-benar menjadi kenyataan, ketiganya harus melewati ujian yang memperlihatkan kemampuan masing-masing.

Bagi Dewi Rekatawati, pertikaian anak-anaknya menjadi ujian tersendiri. Ia telah melahirkan tiga putra yang sama-sama memiliki kesaktian. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui sejak awal jalan mana yang akan dipilih oleh masing-masing anak.

Jalan yang Berbeda

Pada akhirnya, takdir membawa ketiga putra Rekatawati ke jalan yang berbeda.

Sang Hyang Manikmaya menjadi penguasa kahyangan dan kemudian dikenal sebagai Batara Guru. Ia menjadi pusat kelanjutan garis keturunan para dewa di Suralaya.

Sang Hyang Ismaya kelak turun ke dunia manusia dan menjalankan tugas sebagai pelindung serta pembimbing keturunan Manikmaya. Di dunia manusia, namanya kemudian dikenal sebagai Semar.

Sementara Sang Hyang Tejamaya menempuh jalan yang berbeda. Ia kelak dikenal sebagai Togog dan mendapat tugas membimbing para penguasa di wilayah seberang.

Tiga putra yang lahir dari sebuah telur akhirnya menjadi tiga tokoh dengan perjalanan yang sangat berbeda. Satu menjadi penguasa kahyangan, dua lainnya turun ke dunia manusia.

Dan semuanya bermula dari Dewi Rekatawati.

Permaisuri di Alang-Alang Kumitir

Setelah anak-anaknya menempuh jalan masing-masing, Dewi Rekatawati tetap berada dalam alam para hyang. Ia kemudian dikenal bersemayam di Kahyangan Alang-Alang Kumitir. Karena tubuhnya bersifat rohani, kehidupannya tidak berakhir sebagaimana manusia biasa.

Di tempat itu, jejak perjalanan panjangnya terus menghubungkan dirinya dengan generasi para dewa. Ia adalah putri penguasa Samodralaya yang kemudian menjadi pasangan Sang Hyang Tunggal. Dari dirinya lahir tiga sosok yang mengubah perjalanan dunia para hyang: Tejamaya, Ismaya, dan Manikmaya.

Dari ketiganya lahir pula kisah-kisah yang jauh lebih besar.

Manikmaya akan membangun garis keturunan para dewa di Suralaya. Ismaya akan turun ke dunia sebagai Semar dan mendampingi para kesatria. Tejamaya akan menjalani perannya sebagai Togog. Nama mereka kelak lebih sering terdengar daripada nama ibunya sendiri.

Namun di balik ketiganya selalu ada sebuah kisah yang sama.

Sebuah kerajaan di alam perairan.

Seorang putri bernama Dewi Rekatawati.

Sebuah pernikahan dengan Sang Hyang Tunggal.

Dan sebutir telur bercahaya yang kemudian pecah menjadi tiga putra.

Dari sanalah salah satu cabang terbesar dalam kisah para dewa Jawa bermula. Dewi Rekatawati tidak meninggalkan warisan berupa takhta atau pusaka. Ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar: tiga anak yang kemudian membawa kisah para hyang menuju zaman yang berbeda.

Dan selama nama Batara Guru, Semar, dan Togog masih disebut dalam kisah-kisah pewayangan, jejak Dewi Rekatawati akan tetap berada di belakang mereka—sebagai ibu dari tiga putra yang lahir dari cahaya.

Last update
Add Comment

⚡ Trending!