Di Kahyangan Keling, sebuah negeri yang jauh dari hiruk-pikuk dunia manusia, tumbuh seorang putri bernama Dewi Darmani. Ia adalah putri Sang Hyang Darmajaka, penguasa Keling, dan sejak kelahirannya hidup di tengah keluarga para hyang yang memiliki hubungan panjang dengan leluhur dunia kahyangan.
Dewi Darmani bukan sekadar putri seorang penguasa. Dari garis keluarganya mengalir darah para hyang yang kelak terhubung dengan berbagai kerajaan dan kahyangan. Namun perjalanan hidupnya berubah ketika Sang Hyang Tunggal datang ke Keling.
Sang Hyang Tunggal adalah putra Sang Hyang Wenang dan Dewi Sahoti. Setelah menerima warisan kekuasaan dari ayahnya, ia menjalani kehidupan di antara kahyangan dan dunia para hyang. Pertemuannya dengan Dewi Darmani kemudian membawa keduanya menuju sebuah ikatan yang akan melahirkan generasi baru.
Dewi Darmani menjadi permaisuri Sang Hyang Tunggal.
Kehidupan di Kahyangan Keling
Setelah pernikahan itu, Sang Hyang Tunggal tinggal di Kahyangan Keling bersama Dewi Darmani. Di tempat tersebut, keduanya menjalani kehidupan sebagai pasangan penguasa. Sang Hyang Tunggal kemudian dinobatkan menjadi raja Keling menggantikan Sang Hyang Darmajaka.
Hari-hari mereka berlangsung dalam ketenteraman. Namun Sang Hyang Tunggal memiliki kegelisahan yang perlahan tumbuh di dalam dirinya. Ia bukan penguasa yang mudah merasa cukup dengan kedudukan dan kemegahan. Ia memiliki keinginan untuk mencapai kesempurnaan dan menguasai tiga lapisan dunia.
Dewi Darmani melihat perubahan itu. Suaminya semakin sering memikirkan kehidupan para leluhur, terutama perjalanan Sang Hyang Nurcahya. Sang Hyang Tunggal membaca Pustaka Darya, kitab pusaka yang menyimpan pengetahuan tentang perjalanan para hyang. Semakin dalam ia memahaminya, semakin kuat keinginannya untuk mengikuti jejak leluhur.
Namun sebelum meninggalkan kahyangan, Sang Hyang Tunggal tidak melupakan keluarganya.
Tiga Anak dari Dewi Darmani
Dari perkawinan Dewi Darmani dan Sang Hyang Tunggal lahirlah tiga anak: Sang Hyang Rudra, Sang Hyang Dewanjali, dan Sang Hyang Darmastuti. Ketiganya hadir dalam wujud akyan, tubuh halus yang menjadi ciri para keturunan hyang pada masa itu.
Dewi Darmani menyaksikan anak-anaknya tumbuh di Kahyangan Keling. Sang Hyang Rudra sebagai putra sulung memiliki kedudukan yang kelak membawanya menjadi penerus kekuasaan di Keling. Dewanjali dan Darmastuti pun tumbuh sebagai bagian dari keluarga yang kelak tersebar ke berbagai penjuru dunia para dewa.
Tetapi Sang Hyang Tunggal masih menyimpan cita-cita yang lebih besar.
Suatu hari, ia menyampaikan keinginannya kepada keluarganya. Ia hendak meninggalkan Kahyangan Keling untuk menjalani tapa. Ia ingin mengikuti jejak leluhurnya dan mencari kesempurnaan yang selama ini dikejarnya.
Dewi Darmani memahami bahwa suaminya tidak dapat ditahan.
Akhirnya Sang Hyang Tunggal menyerahkan Kahyangan Keling kepada putra sulung mereka, Sang Hyang Rudra. Setelah itu ia meninggalkan istana dan turun menuju dunia untuk menjalani tapa.
Ketika Sang Hyang Tunggal Pergi
Kepergian Sang Hyang Tunggal mengubah kehidupan Dewi Darmani. Istana yang dahulu mereka tempati bersama kini terasa berbeda. Suaminya telah pergi menjalani jalan yang dipilihnya sendiri, sementara Dewi Darmani tetap menjadi bagian dari keluarga yang harus menjaga keberlangsungan kerajaan dan anak-anak mereka.
Sang Hyang Rudra kemudian memegang kekuasaan di Keling. Sementara itu, Dewi Darmani tetap menjadi bagian penting dalam keluarga para hyang. Dari dirinya mengalir garis keturunan yang kelak akan bertemu dengan banyak tokoh besar dalam dunia pewayangan.
Namun kepergian Sang Hyang Tunggal ternyata bukan akhir perjalanan keluarga mereka.
Sang Hyang Tunggal kemudian bertemu dengan Dewi Wirandi, putri Sang Hyang Rekatama, penguasa kerajaan jin di dasar samudra. Dari pernikahan tersebut lahir tiga putra: Sang Hyang Tejamaya, Sang Hyang Ismaya, dan Sang Hyang Manikmaya. Ketiganya kelak menjadi tokoh yang mengubah tatanan kahyangan.
Dengan demikian, keluarga Dewi Darmani pun terhubung dengan generasi yang lebih besar. Anak-anaknya menjadi saudara seayah bagi Tejamaya, Ismaya, dan Manikmaya.
Jejak Dewi Darmani
Dewi Darmani tidak duduk di singgasana sebagai tokoh yang memenuhi banyak kisah peperangan. Jejaknya justru tertanam dalam keluarga yang lahir darinya.
Dari rahimnya lahir Sang Hyang Rudra, Sang Hyang Dewanjali, dan Sang Hyang Darmastuti. Sang Hyang Rudra kemudian memegang Kahyangan Keling dan menjadi bagian dari perjalanan para dewa. Darmastuti pun kelak menjadi salah satu mata rantai penting dalam hubungan antarkeluarga para hyang.
Ketika kelak Sang Hyang Manikmaya menjadi penguasa Suralaya, hubungan antara dua cabang keluarga itu kembali menjadi bagian dari kisah besar para dewa. Di satu sisi berdiri keturunan Dewi Darmani, putra-putri dari pernikahan pertama Sang Hyang Tunggal. Di sisi lain berdiri keturunan Dewi Wirandi, yang melahirkan tiga tokoh besar lainnya.
Dewi Darmani berada di titik awal dari salah satu cabang tersebut.
Ia adalah putri Sang Hyang Darmajaka, permaisuri Sang Hyang Tunggal, dan ibu dari tiga anak yang membawa darahnya ke generasi berikutnya. Kehidupannya mungkin berlangsung jauh dari gemuruh perang dan perebutan kekuasaan, tetapi dari Kahyangan Keling ia telah meninggalkan sesuatu yang jauh lebih panjang daripada masa hidupnya sendiri.
Sebab ketika nama Sang Hyang Rudra, Sang Hyang Dewanjali, dan Sang Hyang Darmastuti kembali disebut dalam kisah para dewa, di belakang mereka selalu ada seorang perempuan yang pernah menjadi pusat keluarga itu.
Dewi Darmani.
Putri Keling yang menjadi permaisuri Sang Hyang Tunggal, ibu dari tiga anak, dan salah satu mata rantai penting dalam garis keturunan para hyang.
